Selasa, 08 Oktober 2013

Ambisi Calon Wakil Rakyat dan Balihonya


 
 Baliho calon pemimpin yang sering kita jumpai di pinggir jalan (ipad.fajar.co.id)


          Saya adalah mahasiswa baru di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Mempelajari prinsip-prinsip komunikasi adalah kewajiban bagi saya. Namun, ketika saya sibuk dijejali teori tersebut di kampus, rasa penasaran akan realitas semakin menjadi. "Sesungguhnya apa kasus nyata dari apa yang saya pelajari hari ini?" itulah yang ada di benak saya ketika perjalanan pulang. Saya tidak pernah berhenti mencari contoh kongkret bahwa prinsip komunikasi mempunyai dimensi isi dan dimensi hubungan. Teori yang mengatakan bahwa dimensi isi mewakilkan pesan yang disampaikan sedangkan dimensi hubungan mewakilkan relasi sumber dan penerima pesan serta cara penyampaiannya. Tiba-tiba saya menabrak tiang banner/baliho pria berkumis dengan ikat kepala khas Sunda.
          Mungkin inilah realitas dari teori prinsip komunikasi yang sedang saya coba visualisasikan. Pria tersebut mempunyai pesan dan telah memilih proses penyampaiannya. Sejenak saya berpikir sambil terus memandang secara detail konten baliho itu. Berbagai pertanyaan muncul di benak saya, mengapa itu dipasang disini, mengapa harus memasang ini, apa maksud dari pencetakan baliho yang pasti tidak sedikit ini?Yang saya ketahui adalah alasan mengapa baliho tersebut dipasang hari ini. Pemilu 9 April 2014 adalah jawabannya. Pria tersebut dan tim suksesnya pasti telah mengetahui bahwa sang pemenang tahta adalah penerima suara terbanyak. Semua lawan politiknya pun pasti mengetahuinya juga. Akhirnya, para tim sukses pun bersaing untuk membuat figur idolanya terkenal atau familiar di tengah masyarakat. Saya yakin bahwa beliau tidak salah memilih desainer dan fotografer untuk mengabadikan figur dirinya di baliho. Saya cukup mengapresiasi daya kreativitas calon wakil rakyat kita dalam berkomunikasi dengan rakyat. Terima kasih karena telah menyajikan berbagai informasi seperti sosok-sosok ambisius yeng notabenenya menyerahkan dirinya untuk mengabdi kepada rakyat, hal itu mereka tunjukan dengan visi dan misi yang sangat menarik serta dibantu oleh janji-janji yang (katanya) akan mereka realisasikan ketika mereka terpilih. Namun saya kecewa karena gelar pendidikan yang tercantum sebelum dan setelah nama mereka tidak diaplikasikan secara nyata. Mereka seakan telah kehabisan cara dan merendahkan intelektual mereka sendiri dengan hanya mengandalkan baliho untuk merebut hati kami selaku pemilih. Memang cukup menarik bahkan lucu ketika memperhatikan tulisan-tulisan yang terpampang tegas di baliho, sehingga saya sempat terkagum-kagum dibuatnya. Rasanya ingin sekali langsung memilih dia di pemilu nanti. Namun, maafkan jika saya mungkin akan berpaling dari dia. Karena, lima puluh meter dari baliho itu ternyata ada baliho rival politiknya. Visi dan misi mereka hampir sama, namun nampaknya baliho yang kedua lebih religius.
              Dari kedua baliho tersebut saya menangkap pesan yang tersirat. Mereka hanya akan merealisasikan niat dan janji-janjinya jika terpilih menjadi anggota legislatif atau eksekutif. Namun, bagaimana jika mereka tidak terpilih? Apakah mereka akan tetap berusaha merealisasikan mimpi-mimpi dan niat mulia sebagaimana tertulis pada baliho. atau justru menghilang karena kecewa karena tidak jadi berhak menerima gaji rutin:
Gaji pokok                 : Rp 15.510.000
Tunjangan Listrik        : Rp 5.496.000
Tunjangan Aspirasi      : Rp 7.200.000
Tunjangan kehormatan : Rp 3.150.000
Tunjangan Komunikasi: Rp 12.000.000
Tunjangan Pengawasan: Rp 2.100.000
Total                           : Rp 46.100.000/bulan
Total per tahun            : Rp 554.000.000
Sesungguhnya jika diakumulasikan per tahun akan mencapai Rp. 787.100.000,- dikarenakan adanya dana intensif, penyerapan, dll. (http://news.liputan6.com)
              Saya kaget setelah mengetahui nominal bakal gaji mereka. Namun, saya menekankan jika mereka memang mempunyai niat mengabdi, mengapa harus menunggu setelah mereka terpilih? Mengapa tidak dari sekarang mereka mulai mengabdi secara tulus? Mengapa mereka seakan merasa cukup memberikan pengabdian hanya dengan memasang baliho di pinggir jalan? Dengan baliho, saya tidak akan mengenali mereka. Saya hanya tahu wajah dari manusia ambisius, memiliki keinginan besar, namun tidak berperan aktif dan berusaha secara real pengabdian kepada masyarakat. Saya berharap, daripada mereka mengeluarkan dana kampanye untuk pembuatan baliho, stiker, dan barang sejenis, lebih baik jika mereka menginvestasikan di jalur sosial. Selain mereka akan dikenali rakyat, mereka pun akan menarik simpati dan empati masyarakat. Berapa miliar dana yang mubah karena dipakai untuk memperbanyak baliho. Akan lebih manfaat jika dana tersebut dialokasikan dan dikhususkan untuk kepentingan masyarakat seperti pembuatan panti asuhan, yayasan pendidikan, masjid, bahkan peminjaman modal usaha akan jauh lebih menarik hati masyarakat. Serta pahala yang berlimpah jika diiringi dengan rasa tulus dan ikhlas. Hal sesederhana itu kami limpahkan kembali kepada mereka. Mereka yang akan menjadi wakil kami, pejuang aspirasi, dan sebagai penyambung lidah kami. Namun, jika menurut mereka baliho ini akan membuat mereka menang (terpilih) menjadi anggota legislatif dan eksekutif, dan membuat ambisi mereka terpenuhi maka lanjutkanlah. Sesungguhnya tidak ada sedikitpun pengaruh bagi kami untuk memilih mereka, karena sebagian besar dari kami telah bosan bahkan muak melihat kontribusi mereka yang hanya mewakilkan dirinya dengan sebuah foto raksasa di pinggir jalan. Justru, kami ingin menggantinya dengan foto kami. Kami tidak mengenali mereka, lalu apa yang menjamin bahwa kami akan tetap memilih? Dengan amplop berisi uang Rp. 20.000,-? Mayoritas dari kami memang kalah jika disuguhi uang. Tapi, apakah manusia terhormat dan insan intelektual seperti mereka akan melakukan hal rendah dan tidak bermoral seperti itu?

Tidak ada komentar: