Tampilkan postingan dengan label Catatan Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Motivasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Juni 2015

Sahabat Yang Kini Tak Lagi Kecil

Hari ini adalah hari registrasi untuk calon mahasiswa Unpad jalur SNMPTN. Saat berjalan di sekitar parkiran Bale Aweuhan, tiba-tiba aku bertemu wajah yang sangat familiar. Entah itu siapa awalnya, tapi dia tersenyum kepadaku. Aku pun membalas senyumnya dan tanpa pikir panjang bertanya, "Kumaha damang, dupi urang kantos pendak dimananya sateuacana?" dari situlah kami berbincang lebih panjang lagi.

Aku mengetahui bahwa dia adalah Rizal, adik kelasku saat di SMPN 1 Cijulang dulu. Saat aku kelas tiga dan masih aktif Pramuka, dia adalah masih dalam tingkat siaga dan aku mengorientasinya. Dia pun membantu saya mengingat hal itu dengan menyebutkan nama AW (inisial cinta pertamaku). Ya, dia memang Rizal, dulu badannya masih sangat kecil namun kini dia jauh tinggi dariku. Namun, yang lebih membanggakan lagi, dia berhasil diterima di Manajemen Komunikasi Fikom Unpad 2015. Sebuah prestasi yang membanggakan.

Kami pun saling bertukar kontak. Jujur saya merasa sangat terharu bisa berjumpa dengan adik satu daerah. Selamat berjuang, kuatkan ideologi untuk mengabdi kepada negeri dengan prestasi yang mumpuni.

Senin, 25 Mei 2015

The Last Note of School of Leader VIII 2015: Sebuah Permulaan

Sebenarnya, saya tergolong kepada mahasiswa yang tertinggal. Bukan masalah informasi yang tidak masuk ke dalam short term memory saya, melainkan belum adanya ketertarikan untuk mengikuti latihan kepemimpinan dan managerial mahasiswa tingkat universitas ini (setahun yang lalu). Sahabat sekelas saya, Mahbub Ubaedi Alwi dan Fadly unggul satu tahun lebih cepat dalam mengikuti acara tahunan ini. Saya pada saat itu, anggap saja masih terbawa arus yang tak menentu.
Saat Mahbub dan Fadly selesai mengikuti pelatihan, sontak saja ada sebuah perubahan yang nyata dari diri mereka. Nampak jelas dari gaya bicara, pola berpikir, dan sikap serta tingkah laku mereka yang lebih elegan dan berwibawa. Ditambah lagi, mereka seakan senantiasa terpanggil untuk mengabdikan diri dan kemampuannya kepada lembaga-lembaga kampus, entah itu di kepanitiaan maupun aktif dalam suatu kepengurusan. Saya dengan beberapa pemahaman yang saya gali dari beberapa literatur berbau kepemimpinan dan agama menyimpulkan bahwa hati mereka terpanggil untuk memberikan sesuatu yang mereka miliki kepada sesama. Mengonsep dirinya sebagai penanggungjawab untuk kemaslahatan orang banyak. Mereka berhenti selalu mementingkan kepentingan pribadi demi kepentingan bersama.
Saya telah menyadari hal itu satu tahun yang lalu. Saya mulai berpikir untuk mengembangkan jaringan dan bisnis kala itu. Sebagai gantinya, saya pun mengonsep diri saya serupa dengan mereka. Alhasil, pintu hati saya terketuk sehingga saya menyiapkan diri saya untuk mengabdi di ranah pelestarian budaya Sunda. Ya, saya bergabung dan menyiapkan diri untuk menjadi pengurus di Lises Unpad masa bakiti 2014/2015.
Dari informasi yang saya dapatkan dari berbagai sumber, LKMM memiliki berbagai tingkatan. Dari tingkat dasar, madya, utama, dan kader bangsa. LKMM tingkat universitas yang diprakarsai oleh Kementrian PSDMO BEM Kema Unpad ini dinamakan School of Leader. Sudah ada 8 angkatan yang mengikuti LKMM tingkat madya ini. Angkatan ke-8 ini adalah angkatan saya. Mahbub dan Fadly merupakan lulusan dari angkatan ke-7. Besar harapan saya untuk bisa ikut serta dalam School of Leader 8 kala itu. Saya pun awalnya mendaftarkan diri sebagai non-delegates student.

Minggu, 10 Mei 2015

Hikmah Kepemimpinan Dari Sepatu




            Budaya Indonesia meletakan peran sepatu sebagai suatu pelengkap bersandang berbagai kegiatan yang lebih formal. Walaupun secara intens kita menyadari bahwa kini, untuk sekedar hangout sekalipun sepatu lebih dipilih dibandingkan dengan sandal biasa. Siapa sangka, di balik perannya sebagai pelengkap “citra” manusia dari segi berpakaian, sepatu memiliki banyak simbol yang dapat kita maknai khususnya dalam kaitan kepemimpinan.
            Produsen sepatu menyadari betul bahwa dunia dan segala isinya tidaklah rata alias stagnan. Baik itu dari segi geografis, hobi, gaya hidup termutakhir, ekonomi, dll. Maka mereka merancang desain, bahan, budgeting, dan komponen lain dari sepatu supaya dapat cocok dan menyesuaikan di berbagai medan tertentu. Agar laku dipasaran, produsen sadar betul bahwa konsumen perlu mengetahui bahwa untuk melangkahkan kaki melewati medan A mesti memakai sepatu A. Jika tidak, besar kemungkinan ia dapat tergelincir dan kemudian terluka sehingga gagal melangkahkan kakinya ke tujuan awalnya.
            Sepatu memberikan pelayanan yang istimewa bagi pemakainya jika dipakai di medannya. Banyak sekali beredar sepatu-sepatu bajakan yang mana merugikan pemakainya. Harganya yang relatif murah memang menggiurkan. Namun, seiring berjalannya waktu, konsumen pun sadar bahwa tidak cukup hanya dengan memandang harga sebagai patokan kualitas utama. Sepatu itu harus memiliki standar kelayakan dan sertifikasi khusus sebelum ia percayai untuk menemani setiap langkahnya. Sepatu dengan berbagai variasi dan spesifikasi kemampuan khusus tersebut memaksa konsumen perlu mengetahui spesifikasi sepatu tersebut. Konsumen harus tahu medan yang akan dilalui dan tujuan yang diidamkan. Perlu adanya integrasi dan sinerginitas antara sepatu dan penggunanya untuk meraih tujuan bersama.
            Begitu pun dengan pola kepemimpinan di tengah kita sekarang ini. Seorang pemimpin sudah semestinya mengerti dan membuka diri untuk meraih sinerginitas dengan yang dipimpinnya. Produsen adalah Tuhan YME yang telah menciptakan manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Sudah barang tentu, jika manusia itu berjalan di jalan yang direstui-Nya maka keunggulannya akan sangat nampak melebihi kekurangannya karena semesta menutupinya. Di sini, sepatu dianalogikan sebagai manusia dengan peran sebagai pemimpin. Ajaran Islam pun dengan lantang menjungjung tinggi asumsi bahwa setiap manusia adalah pemimpin berdasarkan firman Allah Swt,”...Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah (pemimpin) di muka bumi...”. Pemakai (konsumen) dianalogikan sebagai masyarakat/yang dipimpin. Mereka berhak memilih, menuntut yang terbaik, membantu memberikan saran tentang arah tujuan suatu organisasi (formal maupun informal). Hanya saja, mereka pun sudah semestinya sadar akan visi bersama sehingga dengan tegas bisa berkata, “Kami punya tujuan ini, maka inilah tipe pemimpin yang kami butuhkan!”. Maka setelah itu terealisasi, “jiwa pemimpin” yang cenderung lebih cocok terhadap visi bersama itu akan muncul secara alami. Berikut rasa kejujuran, kasih sayang, tanggungjawab, komitmen, ketulusan, dan lain sebagainya. Semua itu ia persembahkan guna mengantarkan masyarakat ke tujuannya. Dengan segala potensi dan keunggulan (spesifikasi medan) yang ia miliki, ia akan mampu melangkah bersama menuju sebuah predikat akhir yang bahagia.
Sepatu bersifat mengayomi dengan keunggulan adanya kemampuan untuk mengapresiasi diri. Keunggulannya yang terpampang jelas membantunya untuk memberikan kontribusi maksimal kepada pemakainya. Begitu pun sebaliknya, kekurangannya terpampang jelas pula. Berkat kejujuran dan transparansinya, jenis sepatu tertentu kadang terkucilkan. Hal itu disebabkan kebutuhan masyarakat itu sendiri. Namun, para produsen dan distributor pun lebih mengetahui di mana ia harus menempatkan sepatu jenis olahraga dan berbagai jenis lainnya. Jika diletakan di lokasi yang tepat, pasti sepatu itu akan laris. Begitupun Tuhan YME lebih mengetahui segala sesuatu, Ia akan menempatkan kita di tempat yang semestinya. Ditengah-tengah masyarakat yang berharap kontribusi kita. Tinggal satu hal, apakah kita mau melangkah bersama mereka? Meraih kesuksesan bersama berkat adanya sinerginitas antara masyarakat yang kita pimpin dengan diri kita sendiri.
Sukses membutuhkan sikap optimistis, berpikir positif, dan fokus pada cita-cita dan tujuan. Untuk menjadi optimistis sesungguhnya banyak hal yang kita miliki. Setidaknya kita punya badan yang sehat, bisa kuliah dan bekerja. Kita punya keterampilan, pendidikan dasar untuk melakukan sesuat. Kita punya keluarga atau teman walau mungkin Cuma satu orang yang siap mendukung kita. Kita juga anggota dari setidaknya satu keluarga, kelompok, lembaga, organisasi atau mungkin perusahaan. Dan, sekecil apapun tentu kita pernah punya prestasi atau kemampuan yang diakui orang lain. Kalau kita jeli, positif, dan apresiatif, tentu ada saja potensi, prestasi, dan kekuatan yang kita miliki yang bisa menjadi tumpuan agar kita optimistis dalam mengejar cita-cita dan tujuan.

Senin, 29 Desember 2014

Sukses Merupakan Akhir Dari Awal Yang Baik


Selamat sore Sahabat Aziz di Catatan Kresna…

Saya akan menceritakan sebuah momen indah yang saya temukan, lihat, dan rasakan dengan seluruh panca indera saya. Kiranya apa itu? Selamat membaca sampai tuntas… ^_^
———————————
Setiap paginya, Sygma Creative Media Corporation (CMC) selalu mengawali aktivitas dengan menunaikan ibadah solat sunat dhuha dan tilawah. Sungguh, itu membawa aura positif bagi seluruh kinerja elemen di perusahan yang bervisi, “Menjadi korporasi media berbasis nilai keluarga yang paling berpengaruh di Indonesia, berfokus kepada industri media kreatif dengan kualitas internasional, jaringan global, dan profitabilitas tinggi.” tersebut. Saat memasuki ruangan kantor, seketika itu pula mushala dipenuhi oleh para pekerja yang sedang menunaikan ibadah solat sunat dhuha. Namun, masih ada hal yang unik yang bisa kita tiru dari pola perilaku keseharian pekerja di perusahaan ini. Tim marketing dari Sygma Creative Media Marcomm (CMM) yang merupakan anak perusahaan dari Sygma CMC memiliki cara yang baik untuk memulai pekerjaannya. Mereka memiliki beberapa agenda setiap paginya.

Agenda pertama. Tim berkumpul dan duduk melingkar pada satu meja. Mereka membawa mushaf Al-Quran masing-masing dan membacanya secara bergiliran. Setelah ada pembukaan yang dipimpin oleh perwakilan di antara mereka, setiap orang pun mulai membaca sesuai dengan gilirannya. Sambil menunggu giliran, anggota tim yang lain mendengarkan dengan seksama dan membenarkan jika terdapat kesalahan saat membaca. Saya menamakan agenda ini dengan, “Tilawah Asik Rame-Rame” (Tentunya itu becandaan saya saja. hehe). Mereka menunaikan ibadah tilawah dengan khidmat sebelum memulai kerja.

Meja ini merupakan saksi bisu forum pagi tim marketing Sygma CMM

Agenda kedua. Ketika setiap orang telah menunaikan bagiannya, tilawah pun ditutup. Belum selesai sampai di situ, kemudian salah seorang dari tim tiba-tiba memulai pembicaraan. Ternyata, beliau mencoba berbagi informasi yang beliau dapatkan dari televisi. Saya menyebut forum ini sebagai, “Forum Berbagi Informasi Islami Dengan Senang Hati” (Tentu saja, itu hanya gurauan saya lagi saja. Hehehe…). Beliau menceritakan sekaligus memberikan argumentasinya terhadap tayangan tersebut. Saya jadi teringat pada mata kuliah literasi media saat di kampus. Beliau tidak hanya menerima informasi secara cuma-cuma, namun beliau juga memberikan hasil analisisnya. Hal tersebut jelas sangat dianjurkan karena dengan menganilisis sesuatu, kita dapat menemukan hal yang dapat dikatakan sebagai sesuatu tersirat/hikmah/subteks daripadanya. Anggota yang lain mendengarkan dengan seksama. Kemudian, setelah anggota pertama selesai berbagi, pemimpin forum pun bertanya, “Apakah masih ada lagi di antara kalian yang akan membagikan sesuatu?”. Jika iya, maka tranfusi informasi dalam FBIIDSI terus berlanjut, jika tidak maka agenda ini pun ditutup.

Agenda ketiga. Awalnya, saya kira forum telah selesai. Ternyata masih ada agenda selanjutnya. Agenda ini merupakan agenda terakhir, saya beri nama, “Ada Masalah? Kami Siap Menemani” (Masih gurauan saya. Hihi). Konten acara ini yakni pemaparan dan laporan tentang hal-hal yang menjadi tanggungjawab wilayah kerja mereka. Detail dari agenda ini adalah anggota tim bertukar informasi terkait masalah-masalah yang mereka temukan di lapangan. Ini bisa disebut diskusi kecil yang berfungsi sebagai pemanasan daya pemikiran anggota. Walaupun tidak semua masalah yang dipaparkan langsung mendapatkan solusinya, setidaknya dengan adanya agenda tersebut mampu memberi bahan pekerjaan tim pada hari tersebut. Setelah dirasa cukup, agenda dan forum pun ditutup.
Banyak hikmah yang dapat kita ambil dari forum pagi tim marketing Sygma CMM. Di dalam prosesnya terdapat nilai-nilai yang bisa kita teladani guna menghasilkan suatu akhir yang baik dalam pekerjaan kita.  Semua pekerja, profesional, bahkan semua orang di dunia ini ingin berada dalam kondisi sukses. Namun, hanya sedikit orang yang mengerti bahwa sukses merupakan akhir dari awal yang baik. Wallahu Alam…
————————————————
Apakah Anda penasaran kiranya informasi apa yang beliau bagikan? Silahkan simak di judul selanjutnya, “Ternyata, Dajjal Itu Membantu Umat Muslim!”


Minggu, 28 Desember 2014

Kenangan Manis Menyakitimu, Yang Benar Saja!


Setiap orang memiliki kenangannya masing-masing. Kenangan akan semakin sulit untuk dilupakan jika didalamnya terdapat untaian-untaian proses yang pernah dilewati bersama. Terserah apa itu kenangan manis maupun kenangan pahit. Namun, kedua jenis kenangan itu saling berhubungan satu sama lain dengan kehidupanmu sekarang ini. Ada masanya kenangan akan bersifat terbalik dengan perasaanmu sekarang.

Perasaan yang sakit, remuk, dan luluh lantak salah satunya berasal dari kenangan manis. Kamu akan merasakan sakit jika kamu mengenang hal-hal manis bersamanya dulu! Terus apa yang kamu dapat? Hanya penyesalan yang ada dalam hati, bukan? Penyesalan yang terus saja memaki-maki hidup kamu sekarang ini. Kini kamu sadar bahwa betapa lemahnya diri kamu di masa lalu, disaat kamu harus mengakhiri kenangan manis itu. Ceroboh, memang ceroboh! Jika saja tidak ada kecerobohan yang kamu lakukan dulu, maka tidak akan perpisahan seperti ini! Maka tidak akan ada istilah kenangan manis seperti yang kamu kenang sekarang ini. Tidak akan ada! Takkan pernah ada istilah itu! Karena jika kamu lebih dewasa waktu itu, kamu mungkin masih berjalan berdampingan dan tersenyum bahagia dengannya. Dengan dia yang sangat kamu sayangi.

Setelah semuanya usai, dengan kondisi kamu yang rapuh seperti ini, apa boleh buat? Kamu berhak atas kenangan manis itu saudaraku. Kamu berhak, benar-benar berhak. Itu adalah hadiah atas kebaikan dan ketulusanmu di masa lalu. Hanya saja kini kamu harus segera membaik. Demi masa depan kamu, demi mimpi yang pernah kamu tuliskan di benak dan dinding kosan kamu. Kenangan manis itu justru harus membuatmu tegar dan kuat, bukan sebaliknya. Kamu tidak perlu memaki-maki masa lalumu itu. Kamu mungkin rapuh dan jengkel atas apa yang terjadi. Seakan semuanya tidak adil terhadapmu. Hatimu bukanlah baja yang kuat dalam kondisi apapun, tapi hatimu juga bukan puding yang mudah hancur. Sadarlah, seperih dan serapuh perasaanmu saat ini, ada hal yang perlu kamu perjuangkan, yaitu masa depan kamu. Buatlah itu secerah-cerahnya mengikuti konsep awal dan prinsip hidupmu. Tetap fokus! Bangkit, bangkit!

Kenangan manis itu kadang tidak sopan, datang seenaknya pas kamu tidak menginginkannya. Namun, tersenyumlah. Sekali lagi tolong tersenyumlah! Jangan sampai kenangan manis itu menyakitimu. Percayalah bahwa apa yang dikenang telah berlalu, tapi ia terasa masih terjadi. Apa yang dikenang mungkin telah sirna dan hancur, tapi kenangan akan tetap abadi. Tersenyumlah, akan ada kebahagiaan lain yang akan menghampirimu secepatnya.

Kehidupan Terus Berjalan, Semangatlah!


Apakah kamu pernah ditinggalkan orang yang kamu sayang? Karena berbagai alasan yang membuatmu tak berdaya dibuatnya. Kini, kamu pun sadar bahwa setelah ia pergi betapa berartinya sosok dia untuk kamu. Saking dekatnya, kamu jadi tak bisa melihat dengan jelas kasih sayangnya, pengertiannya, rasa khawatirnya, rindunya, dan semuanya. Sehingga kamu mengabaikan kasih sayangnya.

Sekarang dia pun telah memutuskan untuk pergi. Apa yang akan kamu lakukan? Minta maaf? Sampai kapan? Apakah kamu mengerti perasaannya? Tidakkah kamu merasakan apa yang dia rasakan saat kamu mengecewakannya? Sekarang apa yang akan kamu lakukan?

Kamu mungkin bergumam seandainya waktu bisa diputar kembali dan berharap kamu bisa menghindari kenyataan pahit ini. Itu semuanya tidak mungkin, sangat tidak mungkin! Kamu mau menangis? Menangislah… kamu berhak untuk itu. Setidaknya, tangisanmu membuktikan penyesalanmu. Permohonan maafmu? Tentunya dalam permohonan maaf itu ada janjimu untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Menangislah!

Semuanya telah terjadi, apa yang bisa kamu lakukan sekarang? Ini semua adalah resiko dari tindakanmu. Kamu pun berhak untuk mempertanggungjawabkannya. Kamu pasti bisa. Kamu adalah manusia yang kuat. Banyak hikmah yang bisa kamu petik dari kenyataan yang kamu hadapi saat ini. Percayalah, mungkin sekarang kamu berpikir bahwa masalahmu adalah yang terberat di dunia ini. Tapi, serapuh apapun kamu sekarang, kehidupan terus berjalan, semangatlah!

Jumat, 26 Desember 2014

Susahnya Bangun Pagi, Bukan Masalah!


Apakah Anda memiliki kebiasaan buruk selalu bangun tidur di siang hari. Dengan gejala mata yang tidak bisa dibuka dan tubuh enggan untuk bergerak pada waktu subuh. Apakah Anda pernah membaca kutipan Ippho Santosa di atas, bagaimana tanggapan Anda? Tenang-tenang, Anda bukanlah satu-satunya orang yang mungkin pernah memiliki kebiasaan buruk itu, saya juga pernah kok. Pernah selalu bangun siang, dan saya pun pernah membaca kutipan di atas. Bagaimana ekspresi saya? Sontak saja saya kaget ketika membaca untuk pertama kalinya. Saya pun langsung bergegas mengambil wudlu dan segera menunaikan solat subuh.

Waktu menunjukan pukul 05.49 WIB kala itu. Biasanya, ketika baru bangun tidur, gawailah yang pertama menjadi incaran. Alasan klasik menjadikan gawai sebagai ‘yang pertama’ adalah untuk mematikan alarm walaupun kemudian tidur lagi. Jika tidak tidur lagi, biasanya langsung mengecek kolom pemberitahuan di setiap media sosial dan berharap ada sesuatu tentang “dia” pagi ini.
Saya jadi malu sendiri jika mengingat hal itu. Malu, sangat malu… Calon imam keluarga seperti apa jika kelakuannya seperti ini? Jika ditanya apa-apa saja yang menjadi target kehidupan, maka jawabannya selangit. Membara layaknya Bung Tomo yang mengharapkan kemerdekaan di jamannya. Namun, tindakan di setiap pagi harinya tidak mencerminkan sedikit pun semangat perjuangan. Boro-boro untuk solat subuh, hal-hal dunia yang lainnya pun biasanya ditinggalkan hanya demi bisa menikmati tidur sampai siang.

Jika Anda mau berubah, saran saya kuatkanlah diri Anda untuk berubah dan yakinlah bahwa Anda bisa berubah. Psikologis Anda butuh dukungan? Mudah saja, Anda tidak perlu meminta bantuan orang lain untuk membangunkan dan menyemangati Anda tiap paginya. Karena ada kemungkinan teman Anda pun sama ‘siangnya’ seperti Anda. Lalu bagaimana? Saran saya, selain niat untuk menjadi pribadi yang lebih segar, sehat, dan tampil menarik karena terbiasa bangun pagi sudah kuat dan mantap, silahkan cetak kutipan di atas dengan desain atau template sesuai selera Anda, kemudian tempelkan di dinding searah dengan posisi tidur Anda. Ketika Anda terjaga, pastikan Anda dapat dengan mudah membaca kutipan tersebut. Mudah kan? Yuk, mari kita coba bersama-sama! ^^

Awalnya, Anda tidak merasakan perubahan yang signifikan. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, Anda pun akan sadar. Otak Anda pun akan berpikir/mencari jawaban atas pertanyaan, “Benarkah saya harus tetap bangun siang?”. Satu hal lagi, resep ini bekerja hanya untuk mereka yang memiliki niat untuk menjadi pribadi sukses dunia akhirat dari sekarang untuk selamanya. Dijamin, ampuh! Semoga Allah melimpahkan hidayahnya kepada kita. Amiin. ^^

Kamis, 25 Desember 2014

Harus Berpikir Produktif!

Revolusi mental sangat mutlak harus dilakukan oleh mahasiswa. Mental kekanak-kanakan yang sudah melekat di dalam diri harus segera dihilangkan. Cukup sampai bangku SMA kita dimanjakan oleh situasi. Serta cukup sudah bagi kita untuk meletakan tangan di bawah alias selalu meminta kepada orang tua, guru, dan masyarakat. Hal sederhana yang bisa mahasiswa lakukan sebagai bentuk pengaplikasian dari revolusi mental salah satunya adalah mengamalkan berpikir hemat, cermat, dan bersahaja (Dasa Darma Pramuka ke-7)

Di usianya yang sudah menginjak dewasa, mayoritas mahasiswa masih berperilaku konsumtif. Jika mahasiswa ibarat sampel dari populasi penduduk Indonesia, maka kita dapat berkaca pada Jepang. Mayoritas penduduknya lebih tertarik pada bagaimana menciptakan sesuatu, daripada bagaimana memiliki sesuatu. Oleh sebab itu, seluruh dunia tahu bahwa Jepang adalah negara yang produktif. Kini saatnya mahasiswa secara perlahan mengubah paradigma berpikirnya dari konsumtif menjadi produktif. Jika masih belum mampu produktif, kembalilah ke saran saya di atas yaitu menahan diri untuk mengikuti keinginan semata. Namun, itu bukanlah suatu perkara yang mudah. Perlu adanya revolusi mental yang bersumber dari hati sanubari masing-masing. Dan itu bisa dipancing dengan cara membiasakan diri.

Minggu, 09 November 2014

Siang, Tolong Hargailah Malam!

Siang dan malam sebenarnya tidaklah saling berganti. Namun, mereka saling melengkapi. Berusaha semaksimal mungkin untuk mengoptimalkan diri memberikan yang terbaik supaya terjaganya keseimbangan. Bukan merupakan hal yang baik apabila siang lebih lama dan dominan dari pada malam, begitu pula sebaliknya. Hampir seluruh aktivitas manusia dilakukan siang hari. Hanya beberapa manusia yang beraktivitas pada malam hari. Manusia lebih banyak berdoa pada waktu siang. Berharap berbagai keajaiban timbul dalam kehidupannya pada siang hari. Hal ini membuat malam menjadi kecil hati. Merasa dirinya kurang berguna, dan jauh tertinggal prestasinya daripada siang.

Mungkin adakalanya pula ketika malam iri kepada siang dan siang iri kepada malam. Dalihnya bermacam-macam. Ketika siang berharap jadi malam karena malam memiliki bulan yang menenangkan jiwa dan malam berharap jadi siang karena siang memiliki matahari yang mampu menghangatkan setiap jiwa. Mereka mungkin saja saling memuji satu sama lain. Bahkan, mungkin saja salah satu di antara mereka merasa lemah dan merendahkan dirinya. Atau salah satu di antara mereka merasa hebat sehingga menganggap malam sebagai sesuatu yang tidak penting bagi kehidupannya.

Jika Anda berpikir bahwa Anda berada di posisi yang lemah, kiranya bagaimana sikap Anda seharusnya? Tidakkah Anda berpikir sejenak serta membayangkan bahwa seseorang yang Anda harapkan mungkin saja tidak hanya berfokus pada kelemahan Anda, tapi juga pada kelebihan Anda. Anda pada saat ini belum bisa menjadi yang terbaik, tapi setidaknya hargailah diri Anda. Jika Anda sendiri saja tidak menghargai kapabilitas diri Anda, mana mungkin seseorang yang Anda harapkan bisa menghargai Anda.

Walaupun Anda berada di posisi malam yang penuh dengan kegelapan, sadarlah bahwa Anda mampu membuat orang lain nyaman dan nyenyak dalam tidurnya. Dan walaupun Anda berada di posisi siang yang menghangatkan, Anda juga tetap memiliki kelemahan. Anda tidak akan senantiasa konsisten berada di puncak kejayaan. Anda pun harus tersadar akan kekurangan Anda dan memberikan kesempatan kepada malam. Malam pun yang merasa rendah hati kepada Anda akan semakin percaya diri dalam mengambil perannya. Jangan sampai Anda sebagai siang merasa tergantikan sehingga Anda merasa tidak nyaman pada malam. Karena, malam hanya berusaha memberikan yang terbaik kepada keseimbangan sistem. Malam berusaha membuat siang tersadar bahwa dia bisa berusaha maksimal dan ingin setidakny ada sedikit apresiasi.


Jika saya menjadi malam, saya akan tetap konsisten mempertahankan peran saya. Karena saya ingin bahagia. Sayalah yang tahu bagaimana caranya membuat diri saya bahagia. Tidak masalah jika pada awal-awal Anda tidak diperdulikan. Yakinlah bahwa setitik usaha yang Anda torehkan akan menimbulkan ganjaran yang setimpal. Apalagi dalam kebaikan, setiap Anda menorehkan kebaikan, maka kebaikan Anda sekecil apapun tidaklah sia-sia. Jika Anda merupakan seorang pribadi yang baik, maka Anda akan didampingi orang yang baik pula. Jadikan rendah hati Anda sebagai alasan kebangkitan Anda. Jadikan rasa sakit Anda sebagai alasan untuk meningkatnya kekuatan motivasi Anda. Tetap semangat, kehidupan selanjutnya masih menanti perjuangan Anda.