Hari ini adalah hari registrasi untuk calon mahasiswa Unpad jalur SNMPTN. Saat berjalan di sekitar parkiran Bale Aweuhan, tiba-tiba aku bertemu wajah yang sangat familiar. Entah itu siapa awalnya, tapi dia tersenyum kepadaku. Aku pun membalas senyumnya dan tanpa pikir panjang bertanya, "Kumaha damang, dupi urang kantos pendak dimananya sateuacana?" dari situlah kami berbincang lebih panjang lagi.
Aku mengetahui bahwa dia adalah Rizal, adik kelasku saat di SMPN 1 Cijulang dulu. Saat aku kelas tiga dan masih aktif Pramuka, dia adalah masih dalam tingkat siaga dan aku mengorientasinya. Dia pun membantu saya mengingat hal itu dengan menyebutkan nama AW (inisial cinta pertamaku). Ya, dia memang Rizal, dulu badannya masih sangat kecil namun kini dia jauh tinggi dariku. Namun, yang lebih membanggakan lagi, dia berhasil diterima di Manajemen Komunikasi Fikom Unpad 2015. Sebuah prestasi yang membanggakan.
Kami pun saling bertukar kontak. Jujur saya merasa sangat terharu bisa berjumpa dengan adik satu daerah. Selamat berjuang, kuatkan ideologi untuk mengabdi kepada negeri dengan prestasi yang mumpuni.
Tampilkan postingan dengan label Catatan Bebas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Bebas. Tampilkan semua postingan
Selasa, 09 Juni 2015
Sahabat Yang Kini Tak Lagi Kecil
Label:
Catatan Bebas,
Catatan Motivasi
Aziz Muslim. I'm student of Padjadjaran University yet. Founder, CEO, and Owner of KRESNA. Lives in Bandung, West Java, Indonesia. I just trying to create my own future from now. Find me at Instagram @amuslim24
Senin, 25 Mei 2015
The Last Note of School of Leader VIII 2015: Sebuah Permulaan
Sebenarnya, saya tergolong kepada mahasiswa yang tertinggal.
Bukan masalah informasi yang tidak masuk ke dalam short term memory saya,
melainkan belum adanya ketertarikan untuk mengikuti latihan kepemimpinan dan
managerial mahasiswa tingkat universitas ini (setahun yang lalu). Sahabat
sekelas saya, Mahbub Ubaedi Alwi dan Fadly unggul satu tahun lebih cepat dalam
mengikuti acara tahunan ini. Saya pada saat itu, anggap saja masih terbawa arus
yang tak menentu.
Saat Mahbub dan Fadly selesai mengikuti pelatihan, sontak
saja ada sebuah perubahan yang nyata dari diri mereka. Nampak jelas dari gaya
bicara, pola berpikir, dan sikap serta tingkah laku mereka yang lebih elegan
dan berwibawa. Ditambah lagi, mereka seakan senantiasa terpanggil untuk
mengabdikan diri dan kemampuannya kepada lembaga-lembaga kampus, entah itu di
kepanitiaan maupun aktif dalam suatu kepengurusan. Saya dengan beberapa
pemahaman yang saya gali dari beberapa literatur berbau kepemimpinan dan agama
menyimpulkan bahwa hati mereka terpanggil untuk memberikan sesuatu yang mereka
miliki kepada sesama. Mengonsep dirinya sebagai penanggungjawab untuk kemaslahatan
orang banyak. Mereka berhenti selalu mementingkan kepentingan pribadi demi
kepentingan bersama.
Saya telah menyadari hal itu satu tahun yang lalu. Saya
mulai berpikir untuk mengembangkan jaringan dan bisnis kala itu. Sebagai
gantinya, saya pun mengonsep diri saya serupa dengan mereka. Alhasil, pintu
hati saya terketuk sehingga saya menyiapkan diri saya untuk mengabdi di ranah
pelestarian budaya Sunda. Ya, saya bergabung dan menyiapkan diri untuk menjadi
pengurus di Lises Unpad masa bakiti 2014/2015.
Dari informasi yang saya dapatkan dari berbagai sumber, LKMM
memiliki berbagai tingkatan. Dari tingkat dasar, madya, utama, dan kader
bangsa. LKMM tingkat universitas yang diprakarsai oleh Kementrian PSDMO BEM
Kema Unpad ini dinamakan School of Leader. Sudah ada 8 angkatan yang mengikuti
LKMM tingkat madya ini. Angkatan ke-8 ini adalah angkatan saya. Mahbub dan
Fadly merupakan lulusan dari angkatan ke-7. Besar harapan saya untuk bisa ikut
serta dalam School of Leader 8 kala itu. Saya pun awalnya mendaftarkan diri
sebagai non-delegates student.
Label:
Catatan Bebas,
Catatan Motivasi
Aziz Muslim. I'm student of Padjadjaran University yet. Founder, CEO, and Owner of KRESNA. Lives in Bandung, West Java, Indonesia. I just trying to create my own future from now. Find me at Instagram @amuslim24
Jumat, 26 Desember 2014
Pentingnya Sebuah Kartu Nama
Kartu nama buatan saya sendiri dengan menggunakan piranti Microsoft Power Point, jika Anda ingin saya buatkan kartu nama yang sederhana seperti di atas, saya senang dan siap membantu.
Tepatnya sebulan yang lalu saya mengikuti sebuah seminar berbau karir yang diselenggarakan oleh teman-teman Matematika Unpad. Dalam acara itu saya sempat berbincang dengan seorang trainer dan berhasil mencatat amanat beliau tentang betapa pentingnya proses personal branding. Di dalamnya terdapat proses memasarkan ‘diri’. Bagaimana Anda memastikan bahwa orang lain mengetahui bahwa diri dan kemampuan Anda berharga jika Anda tidak memasarkannya? Dan salah satu cara untuk memasarkan diri dengan cara efektif adalah dengan memproduksi dan membagikan kartu nama Anda. Kartu nama merupakan hal kecil yang bermanfaat besar dalam perluasan jaringan bisnis Anda.
Label:
Catatan Bebas
Aziz Muslim. I'm student of Padjadjaran University yet. Founder, CEO, and Owner of KRESNA. Lives in Bandung, West Java, Indonesia. I just trying to create my own future from now. Find me at Instagram @amuslim24
Kamis, 25 Desember 2014
Harus Berpikir Produktif!
Revolusi mental sangat mutlak harus dilakukan
oleh mahasiswa. Mental kekanak-kanakan yang sudah melekat di dalam diri
harus segera dihilangkan. Cukup sampai bangku SMA kita dimanjakan oleh
situasi. Serta cukup sudah bagi kita untuk meletakan tangan di bawah
alias selalu meminta kepada orang tua, guru, dan masyarakat. Hal
sederhana yang bisa mahasiswa lakukan sebagai bentuk pengaplikasian dari
revolusi mental salah satunya adalah mengamalkan berpikir hemat,
cermat, dan bersahaja (Dasa Darma Pramuka ke-7)
Di usianya yang sudah menginjak dewasa, mayoritas mahasiswa masih berperilaku konsumtif. Jika mahasiswa ibarat sampel dari populasi penduduk Indonesia, maka kita dapat berkaca pada Jepang. Mayoritas penduduknya lebih tertarik pada bagaimana menciptakan sesuatu, daripada bagaimana memiliki sesuatu. Oleh sebab itu, seluruh dunia tahu bahwa Jepang adalah negara yang produktif. Kini saatnya mahasiswa secara perlahan mengubah paradigma berpikirnya dari konsumtif menjadi produktif. Jika masih belum mampu produktif, kembalilah ke saran saya di atas yaitu menahan diri untuk mengikuti keinginan semata. Namun, itu bukanlah suatu perkara yang mudah. Perlu adanya revolusi mental yang bersumber dari hati sanubari masing-masing. Dan itu bisa dipancing dengan cara membiasakan diri.
Di usianya yang sudah menginjak dewasa, mayoritas mahasiswa masih berperilaku konsumtif. Jika mahasiswa ibarat sampel dari populasi penduduk Indonesia, maka kita dapat berkaca pada Jepang. Mayoritas penduduknya lebih tertarik pada bagaimana menciptakan sesuatu, daripada bagaimana memiliki sesuatu. Oleh sebab itu, seluruh dunia tahu bahwa Jepang adalah negara yang produktif. Kini saatnya mahasiswa secara perlahan mengubah paradigma berpikirnya dari konsumtif menjadi produktif. Jika masih belum mampu produktif, kembalilah ke saran saya di atas yaitu menahan diri untuk mengikuti keinginan semata. Namun, itu bukanlah suatu perkara yang mudah. Perlu adanya revolusi mental yang bersumber dari hati sanubari masing-masing. Dan itu bisa dipancing dengan cara membiasakan diri.
Aziz Muslim. I'm student of Padjadjaran University yet. Founder, CEO, and Owner of KRESNA. Lives in Bandung, West Java, Indonesia. I just trying to create my own future from now. Find me at Instagram @amuslim24
Rabu, 03 Desember 2014
Mahasiswa Peduli, Apakah Bisa?
Pada dasarnya, manusia memiliki rasa
empati di dalam hatinya. Hal itu menyebabkan mahasiswa terkadang galau karena
ada tuntutan harus peduli kepada sesama/masyarakat di antara kesibukan kuliah
dan aktivitas organisasi lainnya. Namun, banyak cara yang bisa memprakarsai
mahasiswa untuk melakukan pergerakan di ranah sosial yang dimaksudkan di atas.
Salah satunya adalah turut aktif dalam program yang diadakan oleh Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi yang bernama Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).
Program itu menimbulkan daya
kompetisi dari tiap-tiap Perguruan Tinggi untuk menjadi yang terbaik dalam
kepeduliannya kepada masyarakat. Pihak Perguruan Tinggi pun menjanjikan hadiah
kepada mahasiswa jika bisa masuk Pekan Ilmiah Nasional (Pimnas) yang merupakan
puncak dari program itu. Hadiah yang ditawarkan dapat berupa uang maupun
jaminan nilai tinggi pada mata kuliah tertentu. Mahasiswa mana kiranya yang
tidak tertarik dengan hadiah yang disebutkan di atas?
Sistem di Perguruan Tinggi harus
konsisten meningkatkan kualitas dan kuantitas program yang melibatkan
masyarakat. Walaupun terkesan pamrih dalam proses pengabdiannya, namun itu
merupakan sebuah langkah yang baik. Karena, sesuatu yang awalnya dipaksakan
namun dilakukan secara konsisten akan menjadi sebuah kebiasaan/budaya. Tentunya
bukan budaya pamrih yang diharapkan, melainkan budaya berkompetisi dalam sebuah
gagasan berbau pengabdian kepada masyarakat atau kepedulian terhadap sesama.
Label:
Catatan Bebas
Aziz Muslim. I'm student of Padjadjaran University yet. Founder, CEO, and Owner of KRESNA. Lives in Bandung, West Java, Indonesia. I just trying to create my own future from now. Find me at Instagram @amuslim24
Minggu, 02 November 2014
Perkenalan: Pencak Silat Lises Unpad
Salah satu bentuk acara Lises Unpad yang bertujuan untuk mengangkat kembali eksistensi Seni Bela Diri Pencak Silat
Berdasarkan data yang
saya dapatkan saat mewawancarai salah satu Kakak tingkat Lises, pada awalnya
pencak silat sempat ada dan dipelajari di Lises. Namun, karena yang membimbing
kala itu diwisuda, maka seketika itu saja pencak silat pun kembali menghilang
dari katalog materi Lises. Sungguh sangat disayangkan jika mengingat pada
hakikat dari nama UKM yang bertujuan untuk nanjeurkeun
ajén ki sunda itu. Tentunya, ini memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap
persepsi mahasiswa dan seluruh civitas akademika Unpad: Lises adalah sanggar
tari dan gamelan saja. Padahal, jika kita mencoba sedikit berusaha untuk menarik
informasi dari sejarah, kita akan tersadar bahwa Lises lebih daripada itu.
Masih banyak materi-materi kesenian Sunda lainnya yang membentuk sebuah makna
dari nama Lises itu sendiri.
Sebuah Permulaan
Saya mengenal pencak
silat saat SMP. Kala itu, kegiatan ekstrakurikuler yang digandrungi siswa hanya
sepak bola dan bola voli saja. Saya masih ingat ketika ekstrakurikuler pencak
silat mengenalkan dirinya dan memulai latihannya. Saya kurang begitu tertarik,
karena faktor ketidaktahuan dan kurangnya informasi mengenai prospek seni bela
diri tersebut ke depannya. Namun, pada akhirnya rasa penasaranlah yang akhirnya
menuntun saya untuk mempelajari seni bela diri tersebut.
Pengumuman SNMPTN yang
menyatakan bahwa saya berhak untuk belajar di Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas Padjadjaran seakan menantang saya untuk meneruskan serta membagikan
ilmu yang saya punya tentang pencak silat ke teman-teman saya di Unpad. Sempat
ada latihan mingguan setiap malam Jum’at dan Minggu di Asrama Padjadjaran 2.
Dengan proses penyebaran informasi secara oral dan sedikit mengeluarkan modal
untuk mencetak pamplet, sedikitnya ada 10 orang yang turut berlatih bersama
saya. Pada saat itu, saya mengonsep tujuan latihan untuk membentuk sebuah UKM
baru, dan tentunya kita harus mengadakan pementasan mandiri. Pementasan yang
bertujuan untuk mendapatkan pengakuan dari civitas akademika Unpad bahwa
terdapat sebuah komunitas yang bertujuan untuk melestarikan seni bela diri
pencak silat.
Kurangnya kekuatan untuk
bertahan sangat saya rasakan. Lantas, saya mencari solusi bagaimana supaya visi
saya terkabulkan. Saya hanya ingin melestarikan pencak silat budaya sekemampuan
saya. Menumbuhkan kembali rasa cinta dan bangga dari kalangan masyarakat
khususnya mahasiswa Unpad pada budaya lokal yaitu seni bela diri pencak silat.
Ketika pencak silat di Unpad hanya mengorientasikan diri kepada jalur prestasi
yang membuat mereka fokus terhadap pengembangan seperti Jurus Tunggal Baku, Regu,
Ganda, dan Tanding; Menjadikan pencak silat hanya sebagai tempat latihan
memukul, menendang, menjatuhkan lawan, menghafal gerakan tunggal dan regu sehingga
lupa terhadap falsafah dari pencak silat itu sendiri. Itu berimbas kepada
tujuan dari para peserta latihan yang mana menjadikan latihan pencak silat
untuk memetik prestasi saja, tanpa adanya rasa tanggungjawab pada pelestarian
seni bela diri maenpo, ibing, dan unsur-unsur budaya lain yang terkandung pada
pencak silat. Saya prihatin saat memperhatikan kondisi kita yang seperti
sekarang ini. Ketika para turis asing kini menyempatkan diri untuk menggali
informasi mengenai seni bela diri pencak silat
dengan berlatih sungguh-sungguh di Indonesia, kita sebagai pribumi
santai-santai saja. Apa yang kita rasakan apabila anak dan cucu kita kelak
belajar kebudayaan kita ke orang Perancis, Jerman, Amerika dll, bukankah itu
tidak lucu? Apakah Anda mau hal itu terjadi?
Mari kita menjaga harta
kita yaitu seni bela diri pencak silat yang merupakan bagian dari unsur budaya
Indonesia. Kuatkanlah rasa cinta dan bangga kita terhadap apa yang kita miliki.
Sebagai bentuk rasa syukur terhadap Yang Maha Kuasa yang menganugerahkan kita
sebuah budaya. Pencak silat budaya sebagai bentuk perwujudan dari hebatnya daya
nalar dan pemikiran-pemikiran para pendahulu kita.
Mari bergabung bersama
kami. Lingkung Seni Sunda Universitas Padjadjaran. Bersama kami, kita akan
bekerja sama untuk melestarikan budaya Sunda, budaya Indonesia.
Label:
Bersama Padjadjaran,
Catatan Bebas
Aziz Muslim. I'm student of Padjadjaran University yet. Founder, CEO, and Owner of KRESNA. Lives in Bandung, West Java, Indonesia. I just trying to create my own future from now. Find me at Instagram @amuslim24
Jumat, 29 Agustus 2014
Lengkap Sudah Jamuan Ceu Siska
Keberangkatan
Dewan Pengurus (DP) dan Dewan Pertimbangan Pengurus (DPP) Lises Unpad ke
Pangalengan bertujuan untuk Rapat Kerja Tengah Tahun (Rakerta). Rakerta
kepengurusan 2013/2014 itu akan dilaksanakan di kediaman Kang Sonny Tamara
Kecamatan Pangalengan. Namun, satu hari sebelumnya yaitu Jum’at, 22 Agustus
2014 saya diajak untuk ikut serta ke sana. Awalnya saya bingung karena beranggapan
itu hanya untuk DP dan DPP saja. Ternyata, yang berangkat ke Pangalengan bukan
hanya pengurus saja. Melainkan teman-teman Lises yang lain termasuk saya yang
notabene anggota termuda (Wisnuwarman).
Kami
tidak bermalam di kediaman Kang Sonny, melainkan di kediaman Ceu Siska.
Kediaman Ceu Siska berdekatan dengan Sonny. Saya, Kang Ade, Kang Daelan, Kang
Gandhi, Ceu Enod, Ceu Ableh, dan Juding tidur nyenyak dipepende oleh udara dingin segar Pangalengan. Rumahnya sederhana,
namun suasananya nyaman sekali. Saya masih ingat hangatnya keluarga Ceu Siska
saat pertama menginjakan kaki di halaman rumahnya. Sungguh membuat saya
merindukan suasana rumah.
Kami
melakukan perjalanan dari Jatinangor ke Pangalengan selama hampir tiga jam.
Teriknya sinar matahari membuat kami lelah. Terlebih udara Pangalengan siang
hari yang tetap panas jauh dari perkiraan awal (dingin). Kami berinisiatif
untuk istirahat sejenak menunggu waktu ashar di halaman belakang. Cukup asri
dan sejuk suasana di sana. Jika Anda keluar dari pintu belakang, Anda akan
langsung dihadapkan dengan kolam ikan yang dikelilingi pohon jambu yang sedang
berbuah.
Angin
sepoi-sepoi menemani waktu istirahat kami. Tidak begitu lama, Ibu Ceu Siska
menghampiri kami dengan membawa satu mangkuk besar tutut (Baca - Keong sawah).
Olahan makanan favorit suku Sunda itu sangat lezat, bumbunya kebetulan mirip
seperti rasa olahan rendang daging sapi. Apalagi ditemani kerupuk dan teh manis
hangat. Saya serasa ingin menulis ucapan TERIMA KASIH yang sangat besar pada
kain raksasa (saking bahagianya). Ternyata, keluarga Ceu Siska terus saja
menjamu kami. Setelah makan tutut, datanglah ayahnya Euceu dengan membawa alat
pancing. Beliau menghendaki kami untuk mancing: sambil menunggu sore katanya.
Awalnya kami ragu, tapi ujung-ujungnya mancing juga.
Cukup
sulit memancing di kolam yang tidak terlalu besar. Karena mungkin boro-boro ikan mau nyantap ikan, mau
berenang ke tengah juga sudah syukur. Karena, pemancing-pemancing amatir ini
selalu tertawa dan bolak-balik gak
jelas. Saya dan Kang Ade berhasil menangkap ikan. Hanya Kang Daelan yang gagal,
mungkin bukan harinya. Kami sempat putus asa karena hari sudah mulai gelap, sementara
tangkapan kami baru tiga ikan. Sekali lagi ayah Ceu Siska menjadi Superman bagi kami. Beliau telah
menyiapkan ikan-ikan besar sebelum kami sampai. Ikan-ikan itu disimpan di dalam
jaring dan kami tidak mengetahui keberadaannya. Kini, saya ingin menuliskan
lagi kata I LOVE YOU di atas langit untuk keluarga Ceu Siska.
Malam
pun tiba, kami menunaikan solat Isya bergantian. Perut yang keroncongan memaksa
kami untuk mencari makanan. Sampai ketika ada seorang di antara kami mengusulkan
untuk jajan bakso. Tidak ada pilihan lain, kami pun sepakat pergi bersama-sama
untuk membeli semangkuk bakso yang katanya bakso khas Pangalengan. Perut
kenyang dan bibir merah karena porsi yang sangat pedas. Namun, keluarga Ceu
Siska belum puas menjamu kami. Sepulang dari tempat bakso, kami disambut oleh
keluarga Ceu Siska dengan api unggun kecil yang hangat. Gelak tawa yang
terlontar akibat kelucuan keponakan-keponakan Ceu Siska menambah kehangatan
suasana pada malam itu. Kehangatan itu membuat jarak antara kami semakin tidak
tampak. Hal itu sempat menjadi ketakutan bagi saya karena khawatir predikat
saya sebagai akademisi justru membuat jarak dengan masyarakat. Namun, keterbukaan
menghapuskan jarak itu. Malam yang penuh kehangatan ini ditutup dengan memasak
ikan bakar dan makan bersama. Terima kasih keluarga Ceu Siska, semoga kebaikan
menyertai kehidupan Bapak, Ibu, Ceuceu, dan semuanya. Amiin
Label:
Catatan Bebas
Aziz Muslim. I'm student of Padjadjaran University yet. Founder, CEO, and Owner of KRESNA. Lives in Bandung, West Java, Indonesia. I just trying to create my own future from now. Find me at Instagram @amuslim24
Jumat, 30 Mei 2014
Silaturahim Ke Kediaman Aktor The Raid 2 Berandal
Pada tanggal 24 Mei 2014, saya
mengunjungi kediaman Pak Cecep Arif Rahman. Motifnya adalah untuk mengenalkan
sahabat saya kepada beliau. Saya memiliki rasa bangga untuk mengenalkan, karena
beliau memiliki prestasi-prestasi yang luar biasa. Belakangan ini, beliau
menjadi aktor dalam film The Raid 2
Berandal. Bersama Iko Uwais dan Yayan Ruhiyan, beliau turut menambah greget
film aksi bertaraf internasional tersebut.
Motif kedua, saya ingat bahwa
pada tanggal 28 Mei 2014 ada acara NgeBatik Asyik Rame-Rame (BATARA) yang
diselenggarakan oleh Kelompok Grafis Fikom (KGF). Saya dipercayai untuk mengisi
acara pada kegiatan bertajuk pelestarian budaya dengan cara yang menyenangkan
tersebut. Sehubungan dengan hanya pencak silat yang dapat saya tampilkan,
akhirnya terlintas dalam benak saya bahwa inilah saat yang tepat untuk berlatih
dengan guru yang tepat pula. Hal ini didukung oleh cuaca yang tidak mendukung.
Memang sedikit aneh kalimat yang tadi. Didukung, namun tidak mendukung.
Pasalnya, jika pada hari itu hujan tidak turun, maka saya pun akan memutuskan
untuk pulang lebih awal. Karena, setiap sore saya selalu menyempatkan waktu
untuk berlatih tari Ronggeng Panggung di Lingkung Seni Sunda Universitas
Padjadjaran (Lises Unpad). Apalagi, pada Jum’at ini kelompok ronggeng kami
diagendakan untuk mengikuti materi bersama pelatih, atau istilah di Lises yang
lebih familiar disebut dengan cut to cut.
Saya berpikir keras saat latihan.
Mengingat bahwa saya adalah orang yang mencintai kesempurnaan, maka saya pun
meminta saran dari Pak Cecep Arif Rahman untuk kesempurnaan tampilan saya. Saat
itulah beliau menggagas inovasi baru dalam bentuk pengoptimalan pola lantai.
Namun, itu hanya untuk tampilan tangan kosong saja. Saya pikir dalam acara
Batara nanti, saya ingin tampil lebih dari hanya tampilan tangan kosong. Saya
menguasai gerakan-gerakan golok dan tongkat. Saya mau menampilkan itu. Namun,
saya tidak memiliki senjata-senjata tersebut. Meminjam senjata untuk pementasan
adalah motif saya yang ketiga.
Pada tiga hari sebelumnya, saya
teringat kepada Dilla dan Didah. Mereka menitipkan uang untuk membeli celana
pangsi yang dijual oleh Pak Cecep. Celana pangsi bordir yang membuat
penggunanya merasa bangga menjadi bagian dari pelestari budaya asli Indonesia
yaitu Pencak Silat.
Hampir tiga bulan saya belum
membelikan pesanan dari adik seperguruan saya itu. Dengan berbagai alasan
seperti kegiatan-kegiatan di kampus. Walaupun pada bulan Maret, saya
menyempatkan diri untuk pulang ke Pangandaran. Namun, saya lupa terhadap
pesanan mereka. Dengan kesempatan berkunjung ke kediaman Pak Cecep 23 Mei lalu,
saya memutuskan untuk membelikan pesanan adik-adik seperguruan saya. Lucunya,
saya hanya menyisakan uang tunai pas-pasan. Sangat pas sekali sehingga uang
didompet saya langsung nihil. Teman-temanku pun menertawakanku. Kami pun
memulai transaksi seusai latihan. Inilah yang menjadi motif ketiga saya yang
tidak terniatkan sebelumnya pada saat kunjungan ke kediaman Pak cecep Arif
Rahman.
Seusai bersilaturahim dan
berlatih, saya mendapatkan beberapa informasi terkait dengan daya komitmen dan
daya gedor saya do dalam proses pencapaian cita-cita saya. Diantaranya adalah
kemampuan saya untuk tetap konsisten dalam ranah saya yaitu pencak silat.
Beliau mengkritik saya karena adanya resiko jika mengikuti kegiatan yang baru.
Hal tersebut disebabkan oleh seringkali manusia melupakan yang telah lalu
karena memiliki sesuatu hal yang baru. Saran dari beliau adalah supaya saya
tetap konsisten. Professional dan tetap teguh berdiri di ranah saya. Alasan
yang saya tangkap adalah lebih baik bergelut di satu bidang kemudian menjadi
seorang ahli yang memiliki kekuasaan rujukan, daripada memiliki berbagai
kegiatan dengan berharap menjadi seseorang yang multitalent namun karena berbagai alasan yang sekiranya mengganggu
seperti cape, jenuh, jadwal yang bertindih dan alasan-alasan lain, jangankan
menjadi ahli dari semua bidang yang ia geluti, satu pun tidak ada yang menjamin
ia akan sukses. Karena, pikiran dia akan melebar membentuk cabang-cabang yang
bisa membawa seseorang itu ke dalam ketidakteraturan hidup.

Label:
Catatan Bebas
Aziz Muslim. I'm student of Padjadjaran University yet. Founder, CEO, and Owner of KRESNA. Lives in Bandung, West Java, Indonesia. I just trying to create my own future from now. Find me at Instagram @amuslim24
Sabtu, 22 Februari 2014
Kegiatan Pembuka Penerimaan Calon Anggota Lises Unpad 2014
Selamat malam
Sahabat Aziz di Catatan Kresna.. :)
Pada kesempatan
ini, saya akan berbagi pengalaman tadi siang di kampus Universitas Padjadjaran.
Lingkung Seni Sunda Unpad membuka pendaftaran terbuka dan sudah menginjak sesi
pembukaan secara simbolis di Audiotorium Bale Santika Unpad. Secara sederhana,
tidak ada yang bisa saya sampaikan selain terima kasih kepada Akang-Teteh Lises
Unpad yang sekuat tenaga mengemban amanah melestarikan budaya Sunda.
Pertunjukan tari-tarian tradisional yang berasal dari Jawa Barat, kemudian
rampak kendang pun tak bisa membuat mata saya berkedip saking takjubnya.
Semoga, dengan bergabungnya saya di Lises Unpad dapat merubah nilai hidup saya
menjadi yang lebih baik. :)
Ini dia beberapa gambar yang berhasil saya abadikan...
Label:
Catatan Bebas
Aziz Muslim. I'm student of Padjadjaran University yet. Founder, CEO, and Owner of KRESNA. Lives in Bandung, West Java, Indonesia. I just trying to create my own future from now. Find me at Instagram @amuslim24
Langganan:
Postingan (Atom)






















