Tampilkan postingan dengan label Catatan Bebas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Bebas. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Juni 2015

Sahabat Yang Kini Tak Lagi Kecil

Hari ini adalah hari registrasi untuk calon mahasiswa Unpad jalur SNMPTN. Saat berjalan di sekitar parkiran Bale Aweuhan, tiba-tiba aku bertemu wajah yang sangat familiar. Entah itu siapa awalnya, tapi dia tersenyum kepadaku. Aku pun membalas senyumnya dan tanpa pikir panjang bertanya, "Kumaha damang, dupi urang kantos pendak dimananya sateuacana?" dari situlah kami berbincang lebih panjang lagi.

Aku mengetahui bahwa dia adalah Rizal, adik kelasku saat di SMPN 1 Cijulang dulu. Saat aku kelas tiga dan masih aktif Pramuka, dia adalah masih dalam tingkat siaga dan aku mengorientasinya. Dia pun membantu saya mengingat hal itu dengan menyebutkan nama AW (inisial cinta pertamaku). Ya, dia memang Rizal, dulu badannya masih sangat kecil namun kini dia jauh tinggi dariku. Namun, yang lebih membanggakan lagi, dia berhasil diterima di Manajemen Komunikasi Fikom Unpad 2015. Sebuah prestasi yang membanggakan.

Kami pun saling bertukar kontak. Jujur saya merasa sangat terharu bisa berjumpa dengan adik satu daerah. Selamat berjuang, kuatkan ideologi untuk mengabdi kepada negeri dengan prestasi yang mumpuni.

Senin, 25 Mei 2015

The Last Note of School of Leader VIII 2015: Sebuah Permulaan

Sebenarnya, saya tergolong kepada mahasiswa yang tertinggal. Bukan masalah informasi yang tidak masuk ke dalam short term memory saya, melainkan belum adanya ketertarikan untuk mengikuti latihan kepemimpinan dan managerial mahasiswa tingkat universitas ini (setahun yang lalu). Sahabat sekelas saya, Mahbub Ubaedi Alwi dan Fadly unggul satu tahun lebih cepat dalam mengikuti acara tahunan ini. Saya pada saat itu, anggap saja masih terbawa arus yang tak menentu.
Saat Mahbub dan Fadly selesai mengikuti pelatihan, sontak saja ada sebuah perubahan yang nyata dari diri mereka. Nampak jelas dari gaya bicara, pola berpikir, dan sikap serta tingkah laku mereka yang lebih elegan dan berwibawa. Ditambah lagi, mereka seakan senantiasa terpanggil untuk mengabdikan diri dan kemampuannya kepada lembaga-lembaga kampus, entah itu di kepanitiaan maupun aktif dalam suatu kepengurusan. Saya dengan beberapa pemahaman yang saya gali dari beberapa literatur berbau kepemimpinan dan agama menyimpulkan bahwa hati mereka terpanggil untuk memberikan sesuatu yang mereka miliki kepada sesama. Mengonsep dirinya sebagai penanggungjawab untuk kemaslahatan orang banyak. Mereka berhenti selalu mementingkan kepentingan pribadi demi kepentingan bersama.
Saya telah menyadari hal itu satu tahun yang lalu. Saya mulai berpikir untuk mengembangkan jaringan dan bisnis kala itu. Sebagai gantinya, saya pun mengonsep diri saya serupa dengan mereka. Alhasil, pintu hati saya terketuk sehingga saya menyiapkan diri saya untuk mengabdi di ranah pelestarian budaya Sunda. Ya, saya bergabung dan menyiapkan diri untuk menjadi pengurus di Lises Unpad masa bakiti 2014/2015.
Dari informasi yang saya dapatkan dari berbagai sumber, LKMM memiliki berbagai tingkatan. Dari tingkat dasar, madya, utama, dan kader bangsa. LKMM tingkat universitas yang diprakarsai oleh Kementrian PSDMO BEM Kema Unpad ini dinamakan School of Leader. Sudah ada 8 angkatan yang mengikuti LKMM tingkat madya ini. Angkatan ke-8 ini adalah angkatan saya. Mahbub dan Fadly merupakan lulusan dari angkatan ke-7. Besar harapan saya untuk bisa ikut serta dalam School of Leader 8 kala itu. Saya pun awalnya mendaftarkan diri sebagai non-delegates student.

Jumat, 26 Desember 2014

Pentingnya Sebuah Kartu Nama

Kartu nama buatan saya sendiri dengan menggunakan piranti Microsoft Power Point, jika Anda ingin saya buatkan kartu nama yang sederhana seperti di atas, saya senang dan siap membantu.


Tepatnya sebulan yang lalu saya mengikuti sebuah seminar berbau karir yang diselenggarakan oleh teman-teman Matematika Unpad. Dalam acara itu saya sempat berbincang dengan seorang trainer dan berhasil mencatat amanat beliau tentang betapa pentingnya proses personal branding. Di dalamnya terdapat proses memasarkan ‘diri’. Bagaimana Anda memastikan bahwa orang lain mengetahui bahwa diri dan kemampuan Anda berharga jika Anda tidak memasarkannya? Dan salah satu cara untuk memasarkan diri dengan cara efektif adalah dengan memproduksi dan membagikan kartu nama Anda. Kartu nama merupakan hal kecil yang bermanfaat besar dalam perluasan jaringan bisnis Anda.

Kamis, 25 Desember 2014

Harus Berpikir Produktif!

Revolusi mental sangat mutlak harus dilakukan oleh mahasiswa. Mental kekanak-kanakan yang sudah melekat di dalam diri harus segera dihilangkan. Cukup sampai bangku SMA kita dimanjakan oleh situasi. Serta cukup sudah bagi kita untuk meletakan tangan di bawah alias selalu meminta kepada orang tua, guru, dan masyarakat. Hal sederhana yang bisa mahasiswa lakukan sebagai bentuk pengaplikasian dari revolusi mental salah satunya adalah mengamalkan berpikir hemat, cermat, dan bersahaja (Dasa Darma Pramuka ke-7)

Di usianya yang sudah menginjak dewasa, mayoritas mahasiswa masih berperilaku konsumtif. Jika mahasiswa ibarat sampel dari populasi penduduk Indonesia, maka kita dapat berkaca pada Jepang. Mayoritas penduduknya lebih tertarik pada bagaimana menciptakan sesuatu, daripada bagaimana memiliki sesuatu. Oleh sebab itu, seluruh dunia tahu bahwa Jepang adalah negara yang produktif. Kini saatnya mahasiswa secara perlahan mengubah paradigma berpikirnya dari konsumtif menjadi produktif. Jika masih belum mampu produktif, kembalilah ke saran saya di atas yaitu menahan diri untuk mengikuti keinginan semata. Namun, itu bukanlah suatu perkara yang mudah. Perlu adanya revolusi mental yang bersumber dari hati sanubari masing-masing. Dan itu bisa dipancing dengan cara membiasakan diri.

Rabu, 03 Desember 2014

Mahasiswa Peduli, Apakah Bisa?

Pada dasarnya, manusia memiliki rasa empati di dalam hatinya. Hal itu menyebabkan mahasiswa terkadang galau karena ada tuntutan harus peduli kepada sesama/masyarakat di antara kesibukan kuliah dan aktivitas organisasi lainnya. Namun, banyak cara yang bisa memprakarsai mahasiswa untuk melakukan pergerakan di ranah sosial yang dimaksudkan di atas. Salah satunya adalah turut aktif dalam program yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang bernama Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).
            Program itu menimbulkan daya kompetisi dari tiap-tiap Perguruan Tinggi untuk menjadi yang terbaik dalam kepeduliannya kepada masyarakat. Pihak Perguruan Tinggi pun menjanjikan hadiah kepada mahasiswa jika bisa masuk Pekan Ilmiah Nasional (Pimnas) yang merupakan puncak dari program itu. Hadiah yang ditawarkan dapat berupa uang maupun jaminan nilai tinggi pada mata kuliah tertentu. Mahasiswa mana kiranya yang tidak tertarik dengan hadiah yang disebutkan di atas?
            Sistem di Perguruan Tinggi harus konsisten meningkatkan kualitas dan kuantitas program yang melibatkan masyarakat. Walaupun terkesan pamrih dalam proses pengabdiannya, namun itu merupakan sebuah langkah yang baik. Karena, sesuatu yang awalnya dipaksakan namun dilakukan secara konsisten akan menjadi sebuah kebiasaan/budaya. Tentunya bukan budaya pamrih yang diharapkan, melainkan budaya berkompetisi dalam sebuah gagasan berbau pengabdian kepada masyarakat atau kepedulian terhadap sesama. 

Minggu, 02 November 2014

Perkenalan: Pencak Silat Lises Unpad

Salah satu bentuk acara Lises Unpad yang bertujuan untuk mengangkat kembali eksistensi Seni Bela Diri Pencak Silat

Berdasarkan data yang saya dapatkan saat mewawancarai salah satu Kakak tingkat Lises, pada awalnya pencak silat sempat ada dan dipelajari di Lises. Namun, karena yang membimbing kala itu diwisuda, maka seketika itu saja pencak silat pun kembali menghilang dari katalog materi Lises. Sungguh sangat disayangkan jika mengingat pada hakikat dari nama UKM yang bertujuan untuk nanjeurkeun ajén ki sunda itu. Tentunya, ini memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap persepsi mahasiswa dan seluruh civitas akademika Unpad: Lises adalah sanggar tari dan gamelan saja. Padahal, jika kita mencoba sedikit berusaha untuk menarik informasi dari sejarah, kita akan tersadar bahwa Lises lebih daripada itu. Masih banyak materi-materi kesenian Sunda lainnya yang membentuk sebuah makna dari nama Lises itu sendiri.

Sebuah Permulaan

Saya mengenal pencak silat saat SMP. Kala itu, kegiatan ekstrakurikuler yang digandrungi siswa hanya sepak bola dan bola voli saja. Saya masih ingat ketika ekstrakurikuler pencak silat mengenalkan dirinya dan memulai latihannya. Saya kurang begitu tertarik, karena faktor ketidaktahuan dan kurangnya informasi mengenai prospek seni bela diri tersebut ke depannya. Namun, pada akhirnya rasa penasaranlah yang akhirnya menuntun saya untuk mempelajari seni bela diri tersebut.

Pengumuman SNMPTN yang menyatakan bahwa saya berhak untuk belajar di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran seakan menantang saya untuk meneruskan serta membagikan ilmu yang saya punya tentang pencak silat ke teman-teman saya di Unpad. Sempat ada latihan mingguan setiap malam Jum’at dan Minggu di Asrama Padjadjaran 2. Dengan proses penyebaran informasi secara oral dan sedikit mengeluarkan modal untuk mencetak pamplet, sedikitnya ada 10 orang yang turut berlatih bersama saya. Pada saat itu, saya mengonsep tujuan latihan untuk membentuk sebuah UKM baru, dan tentunya kita harus mengadakan pementasan mandiri. Pementasan yang bertujuan untuk mendapatkan pengakuan dari civitas akademika Unpad bahwa terdapat sebuah komunitas yang bertujuan untuk melestarikan seni bela diri pencak silat.

Kurangnya kekuatan untuk bertahan sangat saya rasakan. Lantas, saya mencari solusi bagaimana supaya visi saya terkabulkan. Saya hanya ingin melestarikan pencak silat budaya sekemampuan saya. Menumbuhkan kembali rasa cinta dan bangga dari kalangan masyarakat khususnya mahasiswa Unpad pada budaya lokal yaitu seni bela diri pencak silat. Ketika pencak silat di Unpad hanya mengorientasikan diri kepada jalur prestasi yang membuat mereka fokus terhadap pengembangan seperti Jurus Tunggal Baku, Regu, Ganda, dan Tanding; Menjadikan pencak silat hanya sebagai tempat latihan memukul, menendang, menjatuhkan lawan, menghafal gerakan tunggal dan regu sehingga lupa terhadap falsafah dari pencak silat itu sendiri. Itu berimbas kepada tujuan dari para peserta latihan yang mana menjadikan latihan pencak silat untuk memetik prestasi saja, tanpa adanya rasa tanggungjawab pada pelestarian seni bela diri maenpo, ibing, dan unsur-unsur budaya lain yang terkandung pada pencak silat. Saya prihatin saat memperhatikan kondisi kita yang seperti sekarang ini. Ketika para turis asing kini menyempatkan diri untuk menggali informasi mengenai seni bela diri pencak silat  dengan berlatih sungguh-sungguh di Indonesia, kita sebagai pribumi santai-santai saja. Apa yang kita rasakan apabila anak dan cucu kita kelak belajar kebudayaan kita ke orang Perancis, Jerman, Amerika dll, bukankah itu tidak lucu? Apakah Anda mau hal itu terjadi?

Mari kita menjaga harta kita yaitu seni bela diri pencak silat yang merupakan bagian dari unsur budaya Indonesia. Kuatkanlah rasa cinta dan bangga kita terhadap apa yang kita miliki. Sebagai bentuk rasa syukur terhadap Yang Maha Kuasa yang menganugerahkan kita sebuah budaya. Pencak silat budaya sebagai bentuk perwujudan dari hebatnya daya nalar dan pemikiran-pemikiran para pendahulu kita.


Mari bergabung bersama kami. Lingkung Seni Sunda Universitas Padjadjaran. Bersama kami, kita akan bekerja sama untuk melestarikan budaya Sunda, budaya Indonesia.

Jumat, 29 Agustus 2014

Lengkap Sudah Jamuan Ceu Siska

Keberangkatan Dewan Pengurus (DP) dan Dewan Pertimbangan Pengurus (DPP) Lises Unpad ke Pangalengan bertujuan untuk Rapat Kerja Tengah Tahun (Rakerta). Rakerta kepengurusan 2013/2014 itu akan dilaksanakan di kediaman Kang Sonny Tamara Kecamatan Pangalengan. Namun, satu hari sebelumnya yaitu Jum’at, 22 Agustus 2014 saya diajak untuk ikut serta ke sana. Awalnya saya bingung karena beranggapan itu hanya untuk DP dan DPP saja. Ternyata, yang berangkat ke Pangalengan bukan hanya pengurus saja. Melainkan teman-teman Lises yang lain termasuk saya yang notabene anggota termuda (Wisnuwarman).

Kami tidak bermalam di kediaman Kang Sonny, melainkan di kediaman Ceu Siska. Kediaman Ceu Siska berdekatan dengan Sonny. Saya, Kang Ade, Kang Daelan, Kang Gandhi, Ceu Enod, Ceu Ableh, dan Juding tidur nyenyak dipepende oleh udara dingin segar Pangalengan. Rumahnya sederhana, namun suasananya nyaman sekali. Saya masih ingat hangatnya keluarga Ceu Siska saat pertama menginjakan kaki di halaman rumahnya. Sungguh membuat saya merindukan suasana rumah.

Kami melakukan perjalanan dari Jatinangor ke Pangalengan selama hampir tiga jam. Teriknya sinar matahari membuat kami lelah. Terlebih udara Pangalengan siang hari yang tetap panas jauh dari perkiraan awal (dingin). Kami berinisiatif untuk istirahat sejenak menunggu waktu ashar di halaman belakang. Cukup asri dan sejuk suasana di sana. Jika Anda keluar dari pintu belakang, Anda akan langsung dihadapkan dengan kolam ikan yang dikelilingi pohon jambu yang sedang berbuah.

Angin sepoi-sepoi menemani waktu istirahat kami. Tidak begitu lama, Ibu Ceu Siska menghampiri kami dengan membawa satu mangkuk besar tutut (Baca - Keong sawah). Olahan makanan favorit suku Sunda itu sangat lezat, bumbunya kebetulan mirip seperti rasa olahan rendang daging sapi. Apalagi ditemani kerupuk dan teh manis hangat. Saya serasa ingin menulis ucapan TERIMA KASIH yang sangat besar pada kain raksasa (saking bahagianya). Ternyata, keluarga Ceu Siska terus saja menjamu kami. Setelah makan tutut, datanglah ayahnya Euceu dengan membawa alat pancing. Beliau menghendaki kami untuk mancing: sambil menunggu sore katanya. Awalnya kami ragu, tapi ujung-ujungnya mancing juga.

Cukup sulit memancing di kolam yang tidak terlalu besar. Karena mungkin boro-boro ikan mau nyantap ikan, mau berenang ke tengah juga sudah syukur. Karena, pemancing-pemancing amatir ini selalu tertawa dan bolak-balik gak jelas. Saya dan Kang Ade berhasil menangkap ikan. Hanya Kang Daelan yang gagal, mungkin bukan harinya. Kami sempat putus asa karena hari sudah mulai gelap, sementara tangkapan kami baru tiga ikan. Sekali lagi ayah Ceu Siska menjadi Superman bagi kami. Beliau telah menyiapkan ikan-ikan besar sebelum kami sampai. Ikan-ikan itu disimpan di dalam jaring dan kami tidak mengetahui keberadaannya. Kini, saya ingin menuliskan lagi kata I LOVE YOU di atas langit untuk keluarga Ceu Siska.

Malam pun tiba, kami menunaikan solat Isya bergantian. Perut yang keroncongan memaksa kami untuk mencari makanan. Sampai ketika ada seorang di antara kami mengusulkan untuk jajan bakso. Tidak ada pilihan lain, kami pun sepakat pergi bersama-sama untuk membeli semangkuk bakso yang katanya bakso khas Pangalengan. Perut kenyang dan bibir merah karena porsi yang sangat pedas. Namun, keluarga Ceu Siska belum puas menjamu kami. Sepulang dari tempat bakso, kami disambut oleh keluarga Ceu Siska dengan api unggun kecil yang hangat. Gelak tawa yang terlontar akibat kelucuan keponakan-keponakan Ceu Siska menambah kehangatan suasana pada malam itu. Kehangatan itu membuat jarak antara kami semakin tidak tampak. Hal itu sempat menjadi ketakutan bagi saya karena khawatir predikat saya sebagai akademisi justru membuat jarak dengan masyarakat. Namun, keterbukaan menghapuskan jarak itu. Malam yang penuh kehangatan ini ditutup dengan memasak ikan bakar dan makan bersama. Terima kasih keluarga Ceu Siska, semoga kebaikan menyertai kehidupan Bapak, Ibu, Ceuceu, dan semuanya. Amiin


---TAMAT---
Selanjutnya

Jumat, 30 Mei 2014

Silaturahim Ke Kediaman Aktor The Raid 2 Berandal

Pada tanggal 24 Mei 2014, saya mengunjungi kediaman Pak Cecep Arif Rahman. Motifnya adalah untuk mengenalkan sahabat saya kepada beliau. Saya memiliki rasa bangga untuk mengenalkan, karena beliau memiliki prestasi-prestasi yang luar biasa. Belakangan ini, beliau menjadi aktor dalam film The Raid 2 Berandal. Bersama Iko Uwais dan Yayan Ruhiyan, beliau turut menambah greget film aksi bertaraf internasional tersebut.

Motif kedua, saya ingat bahwa pada tanggal 28 Mei 2014 ada acara NgeBatik Asyik Rame-Rame (BATARA) yang diselenggarakan oleh Kelompok Grafis Fikom (KGF). Saya dipercayai untuk mengisi acara pada kegiatan bertajuk pelestarian budaya dengan cara yang menyenangkan tersebut. Sehubungan dengan hanya pencak silat yang dapat saya tampilkan, akhirnya terlintas dalam benak saya bahwa inilah saat yang tepat untuk berlatih dengan guru yang tepat pula. Hal ini didukung oleh cuaca yang tidak mendukung. Memang sedikit aneh kalimat yang tadi. Didukung, namun tidak mendukung. Pasalnya, jika pada hari itu hujan tidak turun, maka saya pun akan memutuskan untuk pulang lebih awal. Karena, setiap sore saya selalu menyempatkan waktu untuk berlatih tari Ronggeng Panggung di Lingkung Seni Sunda Universitas Padjadjaran (Lises Unpad). Apalagi, pada Jum’at ini kelompok ronggeng kami diagendakan untuk mengikuti materi bersama pelatih, atau istilah di Lises yang lebih familiar disebut dengan cut to cut.

Saya berpikir keras saat latihan. Mengingat bahwa saya adalah orang yang mencintai kesempurnaan, maka saya pun meminta saran dari Pak Cecep Arif Rahman untuk kesempurnaan tampilan saya. Saat itulah beliau menggagas inovasi baru dalam bentuk pengoptimalan pola lantai. Namun, itu hanya untuk tampilan tangan kosong saja. Saya pikir dalam acara Batara nanti, saya ingin tampil lebih dari hanya tampilan tangan kosong. Saya menguasai gerakan-gerakan golok dan tongkat. Saya mau menampilkan itu. Namun, saya tidak memiliki senjata-senjata tersebut. Meminjam senjata untuk pementasan adalah motif saya yang ketiga.

Pada tiga hari sebelumnya, saya teringat kepada Dilla dan Didah. Mereka menitipkan uang untuk membeli celana pangsi yang dijual oleh Pak Cecep. Celana pangsi bordir yang membuat penggunanya merasa bangga menjadi bagian dari pelestari budaya asli Indonesia yaitu Pencak Silat.

Hampir tiga bulan saya belum membelikan pesanan dari adik seperguruan saya itu. Dengan berbagai alasan seperti kegiatan-kegiatan di kampus. Walaupun pada bulan Maret, saya menyempatkan diri untuk pulang ke Pangandaran. Namun, saya lupa terhadap pesanan mereka. Dengan kesempatan berkunjung ke kediaman Pak Cecep 23 Mei lalu, saya memutuskan untuk membelikan pesanan adik-adik seperguruan saya. Lucunya, saya hanya menyisakan uang tunai pas-pasan. Sangat pas sekali sehingga uang didompet saya langsung nihil. Teman-temanku pun menertawakanku. Kami pun memulai transaksi seusai latihan. Inilah yang menjadi motif ketiga saya yang tidak terniatkan sebelumnya pada saat kunjungan ke kediaman Pak cecep Arif Rahman.

Seusai bersilaturahim dan berlatih, saya mendapatkan beberapa informasi terkait dengan daya komitmen dan daya gedor saya do dalam proses pencapaian cita-cita saya. Diantaranya adalah kemampuan saya untuk tetap konsisten dalam ranah saya yaitu pencak silat. Beliau mengkritik saya karena adanya resiko jika mengikuti kegiatan yang baru. Hal tersebut disebabkan oleh seringkali manusia melupakan yang telah lalu karena memiliki sesuatu hal yang baru. Saran dari beliau adalah supaya saya tetap konsisten. Professional dan tetap teguh berdiri di ranah saya. Alasan yang saya tangkap adalah lebih baik bergelut di satu bidang kemudian menjadi seorang ahli yang memiliki kekuasaan rujukan, daripada memiliki berbagai kegiatan dengan berharap menjadi seseorang yang multitalent namun karena berbagai alasan yang sekiranya mengganggu seperti cape, jenuh, jadwal yang bertindih dan alasan-alasan lain, jangankan menjadi ahli dari semua bidang yang ia geluti, satu pun tidak ada yang menjamin ia akan sukses. Karena, pikiran dia akan melebar membentuk cabang-cabang yang bisa membawa seseorang itu ke dalam ketidakteraturan hidup.





Sabtu, 22 Februari 2014

Kegiatan Pembuka Penerimaan Calon Anggota Lises Unpad 2014

Selamat malam Sahabat Aziz di Catatan Kresna.. :)

Pada kesempatan ini, saya akan berbagi pengalaman tadi siang di kampus Universitas Padjadjaran. Lingkung Seni Sunda Unpad membuka pendaftaran terbuka dan sudah menginjak sesi pembukaan secara simbolis di Audiotorium Bale Santika Unpad. Secara sederhana, tidak ada yang bisa saya sampaikan selain terima kasih kepada Akang-Teteh Lises Unpad yang sekuat tenaga mengemban amanah melestarikan budaya Sunda. Pertunjukan tari-tarian tradisional yang berasal dari Jawa Barat, kemudian rampak kendang pun tak bisa membuat mata saya berkedip saking takjubnya. Semoga, dengan bergabungnya saya di Lises Unpad dapat merubah nilai hidup saya menjadi yang lebih baik. :)

Ini dia beberapa gambar yang berhasil saya abadikan...