Tampilkan postingan dengan label Bersama Padjadjaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bersama Padjadjaran. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Desember 2014

Harus Berpikir Produktif!

Revolusi mental sangat mutlak harus dilakukan oleh mahasiswa. Mental kekanak-kanakan yang sudah melekat di dalam diri harus segera dihilangkan. Cukup sampai bangku SMA kita dimanjakan oleh situasi. Serta cukup sudah bagi kita untuk meletakan tangan di bawah alias selalu meminta kepada orang tua, guru, dan masyarakat. Hal sederhana yang bisa mahasiswa lakukan sebagai bentuk pengaplikasian dari revolusi mental salah satunya adalah mengamalkan berpikir hemat, cermat, dan bersahaja (Dasa Darma Pramuka ke-7)

Di usianya yang sudah menginjak dewasa, mayoritas mahasiswa masih berperilaku konsumtif. Jika mahasiswa ibarat sampel dari populasi penduduk Indonesia, maka kita dapat berkaca pada Jepang. Mayoritas penduduknya lebih tertarik pada bagaimana menciptakan sesuatu, daripada bagaimana memiliki sesuatu. Oleh sebab itu, seluruh dunia tahu bahwa Jepang adalah negara yang produktif. Kini saatnya mahasiswa secara perlahan mengubah paradigma berpikirnya dari konsumtif menjadi produktif. Jika masih belum mampu produktif, kembalilah ke saran saya di atas yaitu menahan diri untuk mengikuti keinginan semata. Namun, itu bukanlah suatu perkara yang mudah. Perlu adanya revolusi mental yang bersumber dari hati sanubari masing-masing. Dan itu bisa dipancing dengan cara membiasakan diri.

Minggu, 02 November 2014

Perkenalan: Pencak Silat Lises Unpad

Salah satu bentuk acara Lises Unpad yang bertujuan untuk mengangkat kembali eksistensi Seni Bela Diri Pencak Silat

Berdasarkan data yang saya dapatkan saat mewawancarai salah satu Kakak tingkat Lises, pada awalnya pencak silat sempat ada dan dipelajari di Lises. Namun, karena yang membimbing kala itu diwisuda, maka seketika itu saja pencak silat pun kembali menghilang dari katalog materi Lises. Sungguh sangat disayangkan jika mengingat pada hakikat dari nama UKM yang bertujuan untuk nanjeurkeun ajén ki sunda itu. Tentunya, ini memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap persepsi mahasiswa dan seluruh civitas akademika Unpad: Lises adalah sanggar tari dan gamelan saja. Padahal, jika kita mencoba sedikit berusaha untuk menarik informasi dari sejarah, kita akan tersadar bahwa Lises lebih daripada itu. Masih banyak materi-materi kesenian Sunda lainnya yang membentuk sebuah makna dari nama Lises itu sendiri.

Sebuah Permulaan

Saya mengenal pencak silat saat SMP. Kala itu, kegiatan ekstrakurikuler yang digandrungi siswa hanya sepak bola dan bola voli saja. Saya masih ingat ketika ekstrakurikuler pencak silat mengenalkan dirinya dan memulai latihannya. Saya kurang begitu tertarik, karena faktor ketidaktahuan dan kurangnya informasi mengenai prospek seni bela diri tersebut ke depannya. Namun, pada akhirnya rasa penasaranlah yang akhirnya menuntun saya untuk mempelajari seni bela diri tersebut.

Pengumuman SNMPTN yang menyatakan bahwa saya berhak untuk belajar di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran seakan menantang saya untuk meneruskan serta membagikan ilmu yang saya punya tentang pencak silat ke teman-teman saya di Unpad. Sempat ada latihan mingguan setiap malam Jum’at dan Minggu di Asrama Padjadjaran 2. Dengan proses penyebaran informasi secara oral dan sedikit mengeluarkan modal untuk mencetak pamplet, sedikitnya ada 10 orang yang turut berlatih bersama saya. Pada saat itu, saya mengonsep tujuan latihan untuk membentuk sebuah UKM baru, dan tentunya kita harus mengadakan pementasan mandiri. Pementasan yang bertujuan untuk mendapatkan pengakuan dari civitas akademika Unpad bahwa terdapat sebuah komunitas yang bertujuan untuk melestarikan seni bela diri pencak silat.

Kurangnya kekuatan untuk bertahan sangat saya rasakan. Lantas, saya mencari solusi bagaimana supaya visi saya terkabulkan. Saya hanya ingin melestarikan pencak silat budaya sekemampuan saya. Menumbuhkan kembali rasa cinta dan bangga dari kalangan masyarakat khususnya mahasiswa Unpad pada budaya lokal yaitu seni bela diri pencak silat. Ketika pencak silat di Unpad hanya mengorientasikan diri kepada jalur prestasi yang membuat mereka fokus terhadap pengembangan seperti Jurus Tunggal Baku, Regu, Ganda, dan Tanding; Menjadikan pencak silat hanya sebagai tempat latihan memukul, menendang, menjatuhkan lawan, menghafal gerakan tunggal dan regu sehingga lupa terhadap falsafah dari pencak silat itu sendiri. Itu berimbas kepada tujuan dari para peserta latihan yang mana menjadikan latihan pencak silat untuk memetik prestasi saja, tanpa adanya rasa tanggungjawab pada pelestarian seni bela diri maenpo, ibing, dan unsur-unsur budaya lain yang terkandung pada pencak silat. Saya prihatin saat memperhatikan kondisi kita yang seperti sekarang ini. Ketika para turis asing kini menyempatkan diri untuk menggali informasi mengenai seni bela diri pencak silat  dengan berlatih sungguh-sungguh di Indonesia, kita sebagai pribumi santai-santai saja. Apa yang kita rasakan apabila anak dan cucu kita kelak belajar kebudayaan kita ke orang Perancis, Jerman, Amerika dll, bukankah itu tidak lucu? Apakah Anda mau hal itu terjadi?

Mari kita menjaga harta kita yaitu seni bela diri pencak silat yang merupakan bagian dari unsur budaya Indonesia. Kuatkanlah rasa cinta dan bangga kita terhadap apa yang kita miliki. Sebagai bentuk rasa syukur terhadap Yang Maha Kuasa yang menganugerahkan kita sebuah budaya. Pencak silat budaya sebagai bentuk perwujudan dari hebatnya daya nalar dan pemikiran-pemikiran para pendahulu kita.


Mari bergabung bersama kami. Lingkung Seni Sunda Universitas Padjadjaran. Bersama kami, kita akan bekerja sama untuk melestarikan budaya Sunda, budaya Indonesia.

Mengupas Tuntas Dokumentasi Budaya

PENGUMUMAN
-------------------------------
SANGAT PENTING SEKALI!
Komplain, protes, dan saling menyalahkan ketika budaya kita hilang atau dicomot negara lain sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Ayo bersama-sama dokumentasikan budaya! Caranya?

Lises Unpad bersama Sobat Budaya dan Tikar Media, lembaga nonprofit yang bergerak dalam pendokumentasian budaya Indonesia, akan mengupas tuntas tentang dokumentasi budaya.
Dateng aja ke Talkshow "Mengupas Tuntas Dokumentasi Budaya"

Hari, tanggal: Senin, 3 Nopember 2014
Waktu: 09.00-12.00 WIB
Tempat: Auditorium Bale Santika, Unpad Jatinangor
FREE. Limited seat! Dapet sertifikat dan snack!

Apresiasi pula adik2 kita yang akan mempresentasikan budaya khas Tatar Sunda yang belum pernah kita ketahui sebelumnya. Penasaran? Dateng aja!


Terima kasih :)

Selasa, 26 Agustus 2014

Kegiatan Ramah Tamah BKI Fikom Unpad



Biro Kerohanian Islam (BKI) Fikom Unpad mengadakan silaturahmi pengurus dengan pramuda 2014. Silaturahmi yang dilaksanakan pada tanggal 26 Agustus 2014 ini bertempat di Arboretum Universitas Padjadjaran. Acara terdiri dari perkenalan dan ramah tamah. Sempat terselip canda pada saat proses ramah tamah berlangsung.

Sementara itu, Aziz Muslim mencoba memaparkan pandangan umum terkait Hari Bina Iman dan Taqwa (Habit). Habit merupakan acara yang bertujuan untuk mengenalkan kegiatan mentoring kepada pramuda fikom muslim 2014.

"Kami meminta maaf apabila Habit tahun ini lebih sederhana dari tahun kemarin. Namun, kami tetap berusaha maksimal untuk menjaga esensi dari acara ini. Kami akan memfasilitasi teman-teman untuk senantiasa meningkatkan iman dan taqwa ke hadirat Allah Swt. Tentunya dengan ciri khas BKI, yaitu belajar agama dengan cara yang menyenangkan." Tutur Aziz Muslim ketua pelaksana Habit 2014.

Dia juga berpesan agar pramuda Fikom Unpad 2014 tidak "tanggung" untuk meraih sukses. "Ya kalo mau sukses jangan tanggung-tanggung. Jangan hanya kepingin sukses di dunia doang, harus sukses di akhirat juga!" Sambungnya. *Kresna A.